PEMERIKSAAN LABORATORIUM¹

Untuk menjalani pemeriksaan laboratorium, seseorang harus membawa surat pengantar dari dokter yang meminta dilakukan pemeriksaan. Petugas di laboratorium akan mengambil sampel atau spesimen darah, air seni (urine), tinja (faeses), dahak, ataupun sperma sesuai dengan permintaan dokter. Hasil pemeriksaan akan dikirimkan kepada dokter yang meminta pemeriksaan laboratorium tersebut dalam amplop tertutup. Sering ada orang yang ingin membacanya sebelum diserahkan kepada dokter yang meminta. Hal ini biasanya dilakukan oleh orang yang tidak tahu cara-cara atau seluk beluk pemeriksaan laboratorium. Hal inilah yang sering menyebabkan kepanikan dalam menghadapi kenyataan karena penafsiran yang keliru.

Sampel Atau Spesimen Pemeriksaan
Untuk bahan pemeriksaan diambil darah sebanyak 5 – 10 cc dari pembuluh darah vena. Kadangkala diperlukan penusukan pada ujung jari dengan lanset (di-prikkel) untuk mendapatkan darah tepi. Darah yang diambil dari pembuluh darah disebut darah sentral.
Spesimen tinja yang dibawa dari rumah hanya sedikit saja, karena yang diperlukan Cuma sebesar kuku kelingking. Bersihkan terlebih dahulu kloset yang biasanya digunakan untuk buang air besar di rumah. Dengan spatel yang bersih, cuil sedikit tinja tadi dan tempatkan pada container yang diberikan petugas laboratorium, dan kemudian tutup rapat-rapat.
Air seni bisa diambil saat berada di laboratorium. Untuk pemeriksaan laboratorium, air seni yang paling baik adalah air seni yang baru.
Dahak sebaiknya saat bangun tidur, atau kalau perlu dahak yang dikumpulkan selama 24 jam.
Sperma dikeluarkan di laboratorium dengan cara onani sambil melihat foto-foto seronok yang disediakan memang untuk keperluan itu.
Setelah diambil darah puasa, Anda diberi makanan atau minuman manis. Dua jam kemudian dilakukan pengambilan darah lagi untuk pemeriksaan gula darah post prandial. Dari darah yang diambil tadi dilakukan pemeriksaan hematologi dan pemeriksaan darah biokimia.

Pemeriksaan Darah Hematologi
Yang diperiksa adalah :
a. Hemoglobin (Hb). Untuk laki-laki dan perempuan harga normalnya berbeda. Hb laki-laki harga normalnya 14 – 18 g/dl, sedangkan harga normal Hb perempuan adalah 12 – 16 g/dl.
b. Eritrosit atau butir-butir darah merah. Jumlah normalnya antara 4.500.000 – 6.000.000/mm³ untuk laki-laki, sedang jumlah normal untuk perempuan antara 4.300.000 – 5.500.000/mm³.
Bila hasil pemeriksaan Hb dan eritrosit kurang dari harga normal, maka disebut anemia, yang kemungkinan disebabkan oleh :
 Cacingan.
 Perdarahan yang banyak.
 Perdarahan occult (tidak kasat mata) sedikit-sedikit tetapi dalam waktu yang lama.
 Menstruasi terlalu banyak atau terlalu panjang masanya.
Orang yang terkena anemia biasanya mengeluh, antara lain mata berkunang-kunang, pusing bila dari posisi duduk atau jongkok ke posisi tegak berdiri. Selain itu sering berdebar-debar dan cepat mengantuk, sulit berkonsentrasi, cepat lelah, pening (dizziness). Gejala lainnya adalah pucat, sesak nafas bila melakukan exercise, edema pada pergelangan kaki.
Bila Hb dan eritrosit lebih dari harga normal, kemungkinan karena dehidrasi atau kekurangan cairan, darah menjadi kental, dengan sendirinya jumlah butir darah merah/ml lebih dari jumlah normalnya.
c. Leukosit atau butir-butir darah putih. Jumlah normalnya antara 5.000 – 10.000 butir/mm³. Bila kurang, kemungkinan ada demam tifoid atau bisa juga AIDS. Bila lebih dari harga normal kemungkinan menderita penyakit infeksi.
Hitung jenis (Difcount atau Differential Counting) adalah menghitung perbandingan jenis butir-butir darah putih. Harga normalnya adalah:
Netrofil 40 – 60%
Limfosit 20 – 40%
Monosit 4 – 8%
Eosinofil 1 – 3%
Basofil 0 – 1%
Platelet 200.000 – 500.000/mm³
Platelet tidak termasuk butir-butir darah putih, tetapi dalam menghitung jenis platelet dihitung saja supaya mudah. Neutrofil, eosinofil, dan basofil dimasukkan ke dalam grup PMN atau polymorphonuclear. Terjadinya agranulositosis bisa karena pengaruh obat.
d. Laju endap darah. Darah jika didiamkan di dalam tabung, butir-butirnya akan mengendap, terutama darah merah. Kecepatan pengendapannya ini diukur dan hasilnya disebut kecepatan endap darah. Apabila diukur dengan tabung Westergreen harga normalnya 3 – 5 mm/jam pada laki-laki, dan 4 – 7 mm/jam pada perempuan. Sedangkan bila diukur dengan tabung Wintrobe harga normalnya 0 – 9 mm/jam pada laki-laki, dan 0 – 20 mm/jam pada perempuan.
e. Golongan darah. Yang diperiksa adalah golongan darah A, B, AB, O, dan Rhesus faktor.

Pemeriksaan Darah Biokimia
Yang diperiksa adalah :
a. Kadar gula.
Kadar gula darah puasa (glucose fasting), yaitu hasil pemeriksaan kadar gula dari darah yang diambil pertama kali saat masih puasa, harga normalnya 60 – 100 mg/dl.
Kadar gula darah setelah makan (glucose post prandial) adalah kadar gula darah dari darah yang diambil 2 jam setelah makan, harga normalnya 80 – 120 mg/dl.
Kadar gula darah sewaktu adalah kadar gula darah saat kapan saja, harga normalnya 70 – 110 mg/dl.
b. Enzim plasma.
Yang termasuk dalam golongan enzim plasma adalah :
 SGOT (serum glutamate oxaloacetate transaminase), nama lainnya adalah AST (aspartate transaminase).
 SGPT (serum glutamate pyruvate transaminase).
 LDH (lactate dehydrogenase).
 ALP (alkaline phosphatase).
 ACP (acid phosphatase).
 AMS
 GGT (g-glutamyltransferase).
 CK (creatine kinase).
Enzim plasma sebenarnya berada di dalam sel. Itulah sebabnya di dalam sel enzim ini terdapat dalam kadar yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kadarnya di dalam plasma darah. Enzim ini bisa didapati di plasma darah karena dilepas oleh sel yang rusak atau sel yang mati sehubungan dengan umurnya yang telah tua. Dalam keadaan normal setiap hari selalu ada saja sel yang mati atau rusak.
Apabila kadar enzim ini dalam darah meningkat, berarti ada peningkatan jumlah sel yang mati atau rusak, atau ada proliferasi sel (penambahan sel dalam jumlah banyak).
Beberapa sel tertentu mengandung enzim plasma dalam jumlah yang lebih banyak dibandingkan dengan sel lainnya. Sebagai contoh, SGOT banyak terdapat di dalam jantung, sel hati (liver), otot rangka, ginjal dan butir darah merah. Apabila ada kenaikan kadar SGOT di dalam darah, maka dokter akan menduga ada peningkatan kerusakan sel dalam organ tadi. Sedangkan SGPT banyak terdapat pada sel hati, otot rangka, ginjal dan jantung.
SGOT atau AST harga normalnya pada laki-laki adalah 5 – 17 U/l, dan pada perempuan adalah 5 – 15 U/l. SGOT pada darah meninggi bila ada hemolisis dan pada bayi yang baru lahir.
Kenaikan 10 – 100 kali lipat dari normal terjadi bila mengalami infark otot jantung, hepatitis karena virus, nekrosis sel hari karena keracunan, serta terganggunya sirkulasi darah, sehingga terjadi syok atau hipoksemia.
Kenaikan moderat terjadi bila mengalami sirosis hingga 2 kali dari normal, sakit kuning karena penyumbatan saluran empedu, keganasan di hati, penyakit otot rangka, setelah trauma fisik, setelah operasi (terutama operasi jantung), dan ketika butir darah merah hemolisis.
SGPT dalam darah harga normalnya pada laki-laki adalah 5 – 23 U/l, dan pada perempuan adalah 5 – 19 U/l.
SGPT meningkat tinggi pada keadaan hepatitis karena virus, nekrosis sel hati karena keracunan, dan syok atau hipoksemia.
Kenaikan moderat terjadi pada keadaan sirosis, sumbatan liver karena gagal jantung, serta kerusakan otot rangka.
LDH banyak terdapat dalam jantung, otot rangka, liver, ginjal, otak, dan butir darah merah.
LDH dalam darah meninggi pada keadaan hemolisis. Kenaikan lebih dari 5 kali lipat terjadi ketika mengalami infark jantung dan kelainan darah.
Kenaikan moderat terjadi pada hepatitis karena virus, keganasan yang terjadi di bagian tubuh mana saja, penyakit otot rangka, dan emboli paru.
ALP banyak terdapat dalam tulang, liver, ginjal, dinding usus, kelenjar susu saat menyusui, dan plasenta. Nilai normalnya 40 – 1.190 U/L.
Pada keadaan normal ALP yang ada di dalam darah pada orang dewasa berasal dari hati, pada anak-anak berasal dari sel tulang, sedangkan pada wanita hamil banyak dari plasenta.
Bila ALP naik, sedangkan hati dan tulang pada pemeriksaan baik, maka dokter biasanya memeriksa GGT. Bila GGT juga normal, maka kecil kemungkinannya ALP berasal dari sistem hati dan empedu.
Pada penyakit tulang, seperti osteomalasia, penyakit Paget, karsinoma skunder pada tulang, dan osteosarkoma, maka nilai ALP naik dan GGT normal. Pada penyakit liver, seperti kolestasis, hepatitis, sirosis hati, maka nilai ALP dan GGT naik.
GGT banyak terdapat dalam liver, ginjal, dan pankreas. Nilai GGT naik pada keadaan di mana ALP juga naik.
ACP banyak didapati pada kelenjar prostat, liver, butir darah merah, platelet, dan sel tulang. Nilai ACP naik pada kondisi karsinoma prostat, setelah pemeriksaan rektal, retensi urine akut, dan pemasangan kateter uretra.
CT banyak terdapat dalam sel jantung, otak, dan otot rangka. Nilai CT naik mencolok pada kondisi infark miokard, distrofi otot rangka, dan syok.
Kenaikan moderat terjadi pada cedera otot rangka, setelah operasi, latihan fisik, dan kejang otot.

c. Total Protein.
Albumin ; nilai normalnya dalam darah adalah 3,0 – 5,0 g/dl.
Globulin ; nilai normalnya dalam darah 2,0 – 3,5 g/dl

d. Total Bilirubin.
Nilai normal total bilirubin adalah 0,3 – 1,1 g/dl. Bilirubin dalam darah adalah sebagai hasil pemecahan haem. Butir darah merah yang sudah cukup umurnya akan mati dan diproses di dalam limpa. Isi butir darah merah, yaitu hemoglobin akan dipecah menjadi haem dan globin. Haem akan dipecah lagi menjadi zat besi dan bilirubin. Zat besi hasil pemecahan ini akan digunakan lagi untuk membentuk hemoglobin, sedangkan bilirubin akan ditranspor ke liver dan dikumpulkan dalam empedu yang akan digunakan untuk mencerna lemak.
Bilirubin direk, yaitu bilirubin yang ditranspor ke liver, di mana bilirubin melekat pada albumin dan tidak larut dalam air, sehingga tidak ditemui di dalam urine. Nilai normalnya adalah 0,1 – 0,4 g/dl.
Bilirubin indirek, yaitu bilirubin direk yang akan dilepas ikatannya dari albumin di dalam hati, dan akan berikatan dengan asam glukuronat. Semua bilirubin indirek ini akan dikumpulkan dalam empedu dan dalam keadaan normal tidak ada dalam plasma darah. Adanya bilirubin indirek ini dalam plasma darah menunjukkan adanya keadaan tidak normal.
Karena bilirubin indirek larut dalam air, maka bilirubin indirek bisa didapati di dalam urine. Adanya bilirubin di dalam urine disebut bilirubinuria, dan selalu patologis.
Bilirubin indirek yang ada dalam empedu, di usus akan dipecah oleh bakteri usus menjadi sterkobilinogen. Sebagian kecil sterkobilinogen akan diserap kembali oleh usus masuk ke dalam darah dan diekskresi kembali melalui empedu, namun ada yang tetap dalam plasma dan terbawa ke ginjal diekskresi ke dalam urine berupa urobilinogen dan urobilin. Jadi, urobilinogen dan urobilin dalam keadaan normal bisa didapati dalam urine.
Sterkobilinogen yang tidak terserap oleh darah, di dalam usus akan diubah menjadi sterkobilin, yaitu suatu pigmen yang menyebabkan tinja bewarna coklat. Tinja yang bewarna pucat kemungkinan ada obstruksi empedu. Zat-zat pada cairan empedu yang bewarna adalah bilirubin, urobilin, dan sterkobilin, sedangkan yang tidak bewarna adalah urobilinogen dan sterkobilinogen.

e.Lemak
 LDL kolesterol ; harga normalnya di bawah 130 mg/dl
 HDL kolesterol ; harga normalnya di atas 45 mg/dl.
 Trigliseride ; harga normalnya antara 72 – 200 mg/dl.
 Total lipid ; harga normalnya antara 450 – 1.000 mg/dl.
 Beta lipoprotein ; harga normalnya untuk laki-laki antara 0,5 – 1,2 mg/dl, sedangkan untuk perempuan antara 0,5 – 0,9 mg/dl.

f. Ureum atau urea
Harga normalnya di bawah 50 mg/dl. Ureum termasuk dalam golongan senyawa nitrogen. Amonia hasil pembakaran protein oleh tubuh akan diubah menjadi urea. Amonia bersifat racun, maka harus dikatabolisme menjadi urea yang mudah larut dan mudah diekskresi melalui ginjal.
Bila kerja ginjal tidak normal, maka urea akan menumpuk di dalam darah. Keadaan yang demikian disebut uremia, dengan gejala mual, muntah, pusing, lesu, dan lemah. Bila tidak ditolong dengan ’cuci darah’ atau hemodialisis, maka orang tersebut akan mengalami koma uremikum.

g. Kreatinin
Termasuk dalam golongan senyawa nitrogen, merupakan hasil katabolisme dari protein di otot. Berbeda dengan ureum yang kadarnya dalam darah dipengaruhi oleh intake atau diet, maka kadar kreatinin dalam darah tidak dipengaruhi oleh diet.
Nilai kreatinin ini sangat baik untuk menilai fungsi ginjal. Nilai normal kreatinin pada laki-laki 0,5 – 1,2 mg/dl, sedangkan pada perempuan 0,5 – 0,9 mg/dl.
Jumlah kreatinin dalam urine per 24 jam (dalam mg) dibagi dengan berat badan (dalam kg) menghasilkan koefisien kreatinin. Harga normal koefisien kreatinin untuk laki-laki adalah 20 – 26, sedangkan untuk perempuan sekitar 14 – 22.
Bila urea dan kreatinin di dalam darah meningkat, dan di dalam urine ditemui kast (cast, suatu hasil cetakan dari material buangan pada urine), protein dan sel, apalagi bila ada oligouria, maka sangat besar kemungkinan adanya kelainan pada ginjal.

h. Asam urat
Nilai normalnya pada laki-laki 3,4 – 7,0 mg/dl, sedangkan pada perempuan 2,4 – 5,7 mg/dl.

Pemeriksaan Urine
Warna urine normal adalah kuning muda atau kuning jerami, jernih. Pada produksi urine yang banyak, berat jenisnya antara 1.015 – 1.030 tergantung pada konsentrasi bahan solid yang larut dalam urine. Bila produksi urine sedikit, maka urine menjadi pekat dan berat jenisnya naik, sedangkan warnanya lebih gelap. Bila berat jenisnya turun, berarti urine lebih encer dan menjadi tidak bewarna, seperti yang terjadi pada diabetes insipidus.
Urine normal agak asam atau pHnya kurang dari 7. Urine normal mengandung urea, kreatinin, asam urat, garam, pigmen empedu, dan asam oksalat. Bila urine normal ini disimpan, maka akan bereaksi menjadi bersifat alkalis, karena urea diubah menjadi amonia.
Urine dikatakan tidak normal apabila mengandung albumin, gula, aseton, nanah, ataupun butir darah, serta kast positif.
Dalam keadaan normal, seseorang akan membuang air kecil setiap 3 – 4 jam. Urine yang bewarna coklat disertai buih biasanya disebabkan oleh penyakit liver atau saluran empedu. Urine bewarna merah terjadi karena makan obat-obatan, atau bisa juga karena adanya darah saat menstruasi, atau bisa juga karena penyakit saluran kencing. Urine yang berbau bisa disebabkan oleh meminum obat, infeksi, diabetes mellitus, atau makanan (petai, jengkol dll).

Mikroskopi
Pemeriksaan urine di bawah mikroskop dilakukan untuk mengetahui apakah ada butir darah merah maupun butir darah putih, sel nanah, bakteri, kast, dan kristal.

Pemeriksaan Tinja
Yang diperiksa adalah warna, konsistensi, adanya substansi abnormal, seperti adanya darah dan frekwensi buang air besar. Bila ada darah merah segar, kemungkinan besar berasal dari usus besar, atau dari dubur. Warna hitam biasanya darah dari usus halus atau lambung. Bila ada lendir diperkirakan adanya infeksi. Bila tidak ada pigmen empedu, maka tinja warnanya pucat.

Mikroskopi
Pemeriksaan tinja di bawah mikroskop dilakukan untuk mendeteksi adanya telur cacing, amuba, dan butir darah putih.

Pemeriksaan Imunologi/Serologi
Pemeriksaan imunologi yang dilakukan adalah pemeriksaan untuk mendeteksi adanya penyakit kelamin sifilis, dengan pemeriksaan WR (Wassermann Reaktie). WR positif artinya di dalam darah atau di dalam tubuh telah ada antibodi terhadap sifilis. Adanya antibodi terhadap sifilis ini dikarenakan tubuh pernah mengenal kuman penyebab sifilis, yang artinya orang tersebut permah kemasukan kuman sifilis. Bila WR positif, maka dilakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk meyakinkan apakah betul ada penyakit sifilis atau apakah bukan false positive.
Bila tes VDRL (Venereal Disease Research Laboratories Test ) hasilnya positif, maka pemeriksaan dilanjutkan untuk membuktikan adanya sifilis. Tes ini bias menghasilkan false positiF maupun false negatiF.
Pemeriksaan Reaksi Widal termasuk dalam golongan pemeriksaan serologi, untuk memeriksa adanya penyakit demam tifoid. Bila Reaksi Widal terjadi, maka dilakukan pemeriksaan ulang setelah 7 – 10 hari dari pemeriksaan pertama untuk melihat adanya peningkatan titer antibodi. Bila titer Reaksi Widal lebih dari 160, maka kemungkinan besar ada penyakit demam tifoid, apalagi bila didapati kuman Salmonella dalam darah yang dibuktikan dengan kultur darah. Widal adalah nama seorang dokter berkebangsaan Perancis.
Pemeriksaan HbsAg adalah pemeriksaan serologi untuk mengetahui apakah ada antigen Hepatitis B. Bila ada atau hasilnya positif, maka dinyatakan bahwa orang tadi pernah mendapat infeksi Hepatitis B. Bila dengan titer tinggi, bisa diperkirakan orang tadi sedang menderita Hepatitis B.
Pemeriksaan antiHBs dan antiHBc adalah pemeriksaan serologi untuk mendeteksi apakah seseorang bisa merespons adanya antigen Hepatitis B. Bila pemeriksaan antiHBs ataupun antiHBc hasilnya positif, maka orang tadi bisa merespons antigen Hepatitis B, yang berarti bisa membuat antibodi. Bila titer antiHBs maupun antiHBc tinggi, maka bisa diperkirakan orang tadi baru saja menderita Hepatitis B atau baru saja mendapat vaksinasi Hepatitis B.

Pemeriksaan Dahak
Dahak diperiksa bakteriologis dan sitologis. Pemeriksaan bakteriologis biasanya untuk mencari basil tuberkulosis (bila ada indikasi), sedangkan pemeriksaan sitologis dilakukan untuk mendeteksi keganasan di paru. Yang dimaksud dengan keganasan di sini adalah kanker paru-paru.

Sumber :
1. Seluk Beluk Pemeriksaan Kesehatan (General Medical Check Up) : Bagaimana Menyikapi Hasilnya.
Oleh Dr. R. Darmanto Djojodibroto Sp.P. FCCP

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: